Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada Yang Bertengger Di Eropa!

By | Oktober 17, 2019

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa, niscaya bung semua baiklah kan? Karena Eropa masih dianggap kiblat untuk membangun karir sepakbola sekaligus bersaing dengan pemain-pemain kelas dunia.

Maka berada di Asia Tenggara, yang jauh dari Eropa tentu menjadi contoh tersendiri untuk bisa berkarir di sana. Jangan muluk-muluk bermain di tim besar, berada di iklim sepakbola Eropa saja sudah patut diacungi jempol ibarat yang dilakukan Egy Maulana Vikri.

Egy yang sekarang memperkuat Lechia Gdanks di Liga Polandia, masih sedang menjajaki karirnya. Ia masih bermain bagi skuad muda Gdanks dan pernah beberapa kali mendapat kesempatan untuk memperkuat Gdanks di level seniornya. Ternyata sebelum Egy menjadi sentra pemberitaan alasannya yaitu bermain di Eropa, tercatat ada beberapa pemain asal Asia Tenggara bermain di Eropa bung. Bung tahu kira-kira siapa saja? coba simak dan cocokan dengan tebakan bung ya.

Dennis Cagara

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Karena sang ayah dulu menentukan untuk menjadi warga negara Filipina dan memperkuatnya, Dennis Cagara pun mengikuti jejaknya dan menjadi sosok yang tak tergantikan di lini pertahanan. Padahal Cagara mempunyai peluang untuk memperkuat tim nasional Denmark ketika itu.

Memulai karir sepakbola di tahun 2002 ia pernah menghuni Brondy IF klub asal Denmark dan hijrah ke Bundesliga di tahun 2004 dengan menjadi skuad Hertha Berlin. Pemain yang sekarang berusia 31 tahun pun pernah berada di Glasgow Rangers dan Eintrach Frankfurt ketika aktif menjadi pesepakbola profesional.

Neil Ehteridge

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Kiper beradarah Filipina Neil Etheridge menjadi sosok yang dibicarakan alasannya yaitu menjadi pemain asal Filipina sekaligus Asia Tenggara yang tampil di Premier League ekspresi dominan 2018/19. Etheridge bisa menopang sekaligus menjaga jala Cardiff City ketika di kompetisi kasta kedua Championship Division ekspresi dominan 2017/18.

Alhasil skuat asuhan Neil Warnock mendapat promosi ke liga bergensi Premier League. Sebagai catatan dari 46 pertandingan yang dimainkan Cardiff di Championship Division, ia hanya mengalami 10 kekalahan.

Stephan Schrock

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Masih dari tanah Filipina, ada pemain lawas yang memulai karir profesional di tahun 1991 berjulukan Stephan Schrock. Saat itu pemain berkepala pelontos ini memperkuat DJK Schweinfurt di Bundesliga. Kemudian lompat ke tahun 2012 dengan memperkuat Hoffenheim, namun karirnya tak cemerllang di sana sehingga memutuskan angkat koper ke Eintracht Frankfurt. Saat ini tercatat masih aktif bermain di Ceres Negros klub Asal Australia.

Fandi Ahmad

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Mendengar nama Fandi Ahmad niscaya tidak asing, pemain ini pernah memperkuat NIAC Mitra Surabaya yang pernah mencetak sebiji gol ke gawang Arsenal ketika melaukan pertandingan persahabatan pada 1983. Sosok sepakbola tersukses asal Singapura ini pun tercatat pernah hijrah ke liga Belanda dengan memperkuat FC Groningen.

Karirnya pun makin populer ketika ambil bab melawan rasasa Italia, Inter Milan di UEFA CUP yang ketika ini dikenal dengan nama Europa League, ia pun menyumbangkan satu gol dan membawa Groningen menang 2-0. Meskipun di leg kedua FC Groningen dilumat habis dengan skor 5-1.

Kurniawan Dwi Yulianto

Menjadi pesepakbola otomatis mempunyai mimpi untuk memperkuat tim besar di Eropa Setidaknya Pemain Asia Tenggara Pernah Ada yang Bertengger di Eropa!

Tak hanya Filipina dan Singapura saja, Indonesia pun pernah menghiasi sepakbola benua biru lewat kaki Kurniawan Dwi Yuianto. Pemain jebolan PSSI Primavera ini pernah mencicipi iklim sepakbola Italia dengan menjadi bab Sampdoria di tahun 1995.

Pelatih Sven Goran Erikson ketika itu menawarkan kesempatan pada sang pemain untuk berada di kursi cadangan ketika melawan Parma. Tak terlalu bersinar di Sampdoria, ia memutuskan untuk memperkuat FC Luzern, klub asal Swiss. Salah satu gol terpentingnya terjadi ketika melawan klub besar Swiss, FC Basel dan berhasil membawa kemenangan FC Luzern 2-1 keesokan harinya namanya muncul di halaman utama surat kabar Swiss.